.: catatan-catatan yang berserakan :.

FENDRY PONOMBAN LAHIR DI MANADO, CELEBES. TUMBUH DAN BESAR DI DATARAN PULAU EKSOTIK ITU, LALU HIJRAH KE JOGJA. KINI TINGGAL DI JAKARTA.

Wednesday, May 07, 2003

Neoliberalisme Menuai Terrorisme (sebuah refleksi kecil)

Diawali kumandang Cogito Ergo Sum Descartes pada abad 17, rasionalitas telah memimpin dunia baru hingga pada puncaknya di abad 20 lalu. Sentuhan renaissance ikut membuka ruang gerak dan kemuliaan rasio. Politik, ekonomi, filsafat berbicara dalam wilayah ini. Subyek yang berpikir (manusia) menjadi sentral. Manusia bukan lagi peziarah dalam dunia (viator mundi) melainkan pencipta dunia (faber mundi). Singkatnya, modernitas telah menjadi muara setiap cita-cita. Akan tetapi di abad 20 pulalah sejarah peradaban sekaligus mencapai puncak kebiadabannya. Dalam seratus tahun itu jutaan manusia terkubur oleh dua perang dunia dan sederetan aksi genocide.

***

Sejarah panjang genocide abad 20 dimulai pada tahun 1904 ketika penguasa Jerman membantai 65.000 orang di Selatan Afrika. Berturut-turut jutaan manusia tewas di era kekuasaan Hitler dan Stalin. Kisah gelap dua penjagal manusia ini masih dilengkapi oleh pembantaian kaum komunis di Indonesia, kaum Budhist di Tibet, etnis Hutu oleh orang-orang Tutsi di Burundi, kaum Indian Guatemala dan Paraguay, lalu orang-orang Iho di Nigeria, Bengalis di Pakistan, Kamboja, Timor-Timor, anggota Baha’i di Iran, Kurdi di Irak, serta Muslim Bosnia. Tidak ada yang tahu pasti total jumlah jiwa yang melayang. Sejarawan Eric Hobsbawn (1994) memberi angka 187 juta orang. Angka resmi sulit ditemukan karena PBB sendiri mendefinisikan genocide sebagai upaya penghancuran dengan sengaja suatu kelompok ras, agama, suku atau suatu bangsa. Dengan begitu pembunuhan massal berbasis kelas, gender dan kelompok politik tidak dianggap sebagai genocide. Apapun definisinya, itulah wajah sejarah hitam kelam di alam modern.

Di luar tragedi kemanusiaan dalam rupa genocide dan perang, warisan kebiadaban abad 20 masih terus terjadi melalui proses pemiskinan negara-negara berkembang. Cengkeraman neoliberal mencekik dan mematikan daya hidup banyak negara miskin. Keterjebakan utang telah menyeret dan mengombang-ambingkan milyaran manusia penduduknya ke dalam pusaran arus kemiskinan.

Paus Johannes Paulus II menyebutnya sebagai sistem yang mensubordinasi manusia ke dalam kekuatan buta pasar serta mengkondisikan perkembangan manusia dengan kekuatan yang dimilikinya. “Dari pusat-pusat kekuasaannya, neoliberalisme meletakkan beban berat ke pundak negara-negara yang lemah. Karena itu dalam komunitas masyarakat internasional kita melihat sejumlah kecil negara tumbuh pesat menjadi kaya di atas biaya meningkatnya proses pemiskinan sejumlah besar negara-negara lain; akibatnya mereka yang makmur menjadi semakin makmur, sementara yang miskin semakin miskin” (Homili di Jose Marty Plaza, Havana, 25/1/1998).

Realitas ini sebenarnya dipahami oleh para penggagas neoliberal sendiri. Dalam sidang tahunan Bank Dunia dan IMF di Washington tahun 1999, mantan Presiden Clinton mengatakan, “Adalah tidak bisa ditolelir bahwa disaat AS menikmati kemajuan perekonomiannya yang begitu berlimpah dalam sejarah, hampir 40 juta orang di seluruh dunia setiap tahun mati karena kelaparan. (Jumlah itu) hampir sama dengan jumlah seluruh orang yang tewas dalam Perang Dunia II” (Kompas, 1/10/99). Namun disinilah ironinya. Sudah menjadi rahasia umum AS adalah pendikte lembaga-lembaga keuangan internasional yang kebijakannya telah banyak merugikan negara-negara miskin. Joseph Stiglitz bahkan menyebut IMF sekedar menjalankan “Washington Consensus”. Segala kebijakan dan keputusan penting lembaga tersebut dirumuskan di Washington dengan segala distorsi kepentingan AS. Akibatnya negara-negara miskin memang menuai petaka yang tidak kecil. International Peace Research Institute mencatat dari total 71 negara dunia ketiga yang menerima adjustment loans, 70% (50 negara) dilanda perang dan konflik—19 negara hancur oleh perang dan 31 negara terjadi kekerasan. Temuan ini menyimpulkan adanya korelasi yang kuat antara beban utang dan perang (Smith, 1994).

Wajah peradaban modern memang semakin hancur oleh dominasi neoliberal yang terus bergerak tanpa kendali. Kapitalisme, di saat-saat terakhir ini terus mencari jalan—seperti yang diyakini banyak orang selama ini sebagai salah satu keunggulannya—bagaimana mengatasi keliaran pasar uang global. Pelepasan dollar dari standar emas oleh Presiden Nixon di tahun 1971 dan kemajuan teknologi informasi telah mendorong aktivitas spekulasi serta membuka jalan bagi uang global berpindah dalam sekejap. Dengan jumlah 1.5 trilyun dollar setiap hari, transaksi finansial internasional lebih banyak berdasarkan aktivitas spekulasi. Dalam satu tahun total transaksi ini diperkirakan setara dengan 50 kali jumlah perdagangan global biasa. Jumlah ini meningkat dua kali lipat dalam sepuluh tahun saja (Achieng, 2000). Sementara Lietaer (1997) menyebut 97,5% adalah aktivitas spekulasi dan hanya 2,5% aktivitas ekonomi biasa (real economy). Krisis finansial global semakin menyeret dan merepotkan kekuatan-kekuatan utama penyanggah neoliberalisme (G7). Performa ekonomi politik Jepang terus mengalami kelesuan, Jerman terus mengalami pengangguran, dan Amerika semakin disibukkan oleh perang anti terorismenya kendati masih harus mendongkrak tingkat pertumbuhan. Upaya menggairahkan perekonomian dengan menurunkan suku bunga telah berkali-kali dilakukan Allan Greenspan. Muncul kecurigaan bahwa sikap ngotot negara itu menyerang Irak adalah bagian dari strategi penyelamatan ekonomi nasionalnya. Argumen ini bukan argumen ahistoris. Perang Dunia II telah menyelamatkan ekonomi Amerika. Anggaran belanja departemen pertahanan AS waktu itu sama dengan ¾ pendapatan nasional Inggris (Heillbroner, 1982).

***

Modernisme bukanlah kapitalisme. Keduanya tidak identik. Kapitalisme memang mekar oleh pasokan ide-ide kebebasan dan rasionalitas namun ia bukan satu-satunya produk modernitas. Ia hanya memilih jalur berbeda dengan anak kandungnya, sosialisme dan komunisme di jalan modernitas. Saat ini kedua pemain besar itu sempoyongan. Komunisme bahkan disebut-sebut telah terkubur. Akan tetapi kegagalan ini bukanlah akhir rasionalitas dalam modernisme. Proyek besar kemanusiaan dalam modernisme tidak akan berhenti, meski jalan kapitalisme dan sosialisme gagal. Dalam konteks inilah penghargaan pantas diberikan untuk Anthony Giddens. Berbasis kondisi obyektif Eropa, tesis Giddens memang terpental ketika hendak diterapkan di negara-negara dunia ketiga. Namun ia tetap tegar menerima tantangan modernitas. Semangat inilah yang dapat diambil sebagai pelajaran.

Rasionalitas memang ditantang untuk mencari jalan keluar atas segala persoalan dunia mutakhir. Ilmu sosial dituntut untuk merumuskan kembali ‘strategi dan taktik’ menaklukkan dunia yang ‘mrucut’ seperti belut. Dan strategi-taktik itu jelas bukan pada perang ataupun “benturan peradaban” yang diam-diam diakui mulai bermanifes itu. Demikian pula halnya neoliberalisme bukanlah solusi bagi kesejahteraan umat manusia. Sebab, justru kemelut yang dibawanya telah ikut mendorong buah-buah resistensi dalam rupa fundamentalisme dan fanatisme sosial. Neoliberalisme telah menuai terorisme!***

FENDRY PONOMBAN
Forum Studi IDEoLOGIKA Bulaksumur
Jogyakarta

0 Comments:

Post a Comment

<< Home